PROSES
PEMBUATAN BIOETANOL
DARI KULIT
PISANG KEPOK
Bioetanol dapat dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung senyawa pati dan
selulosa dengan menggunakan bantuan dari aktivitas ragi. Provinsi Lampung mempunyai
kapasitas produksi
kulit pisang 180.153 ton
pertahun (Anonim, 1998). Menurut Munadjim
(1982), bagian yang dapat dimakan dari buah pisang adalah dua per tiga bagian dan sepertiga bagian sisanya merupakan limbah pisang. Angka tersebut
(1/3
x 80.153 = 60.000 ton/tahun) merupakan jumlah limbah yang cukup banyak
yang dapat mencemari
lingkungan apabila tidak
ditangani dengan cepat. Selain mengandung air,
kulit pisang juga mengandung karbohidrat yang
relatif tinggi yaitu 18,50 % (Tety,
2006). Limbah
kulit pisang kepok mengandung monosakarida
terutama glukosa sebesar 8,16
%. Oleh karena itu limbah kulit pisang kepok berpotensi
untuk
dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan bioetanol melalui proses fermentasi (Munadjim, 1982). Pada penelitian ini permasalahan yang
diangkat adalah bagaimana cara pembuatan bioetanol dengan
bahan baku
kulit pisang kepok. Berdasarkan permasalahan itulah penelitian tentang pengolahan limbah kulit pisang
ini dilakukan
agar
lebih
berguna untuk
menambah wawasan
masyarakat.
Bioetanol
Bioetanol sering ditulis dengan
rumus
EtOH. Rumus molekul etanol adalah C2H5OH,
sedang rumus empirisnya C2H6O atau rumus bangunnya CH3-CH2-OH. Bioetanol merupakan bagian dari
kelompok metil (CH3-) yang
terangkai pada kelompok metilen (-CH2-) dan
terangkai dengan kelompok hidroksil
(-OH). Secara
umum akronim dari Bioetanol
adalah EtOH (Ethyl-(OH)).
| Bioetanol merupakan salah satu biofuel yang
hadir sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan sifatnya terbarukan. Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari
proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan
bantuan mikroorganisme.
Bioetanol diartikan juga sebagai
bahan kimia yang diproduksi dari
bahan pangan yang mengandung pati, seperti ubi kayu, ubi jalar,
jagung, dan sagu. Bioetanol merupakan bahan
bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak premium (Khairani, 2007)
Bioetanol
bersifat multi-guna
karena
dicampur dengan
bensin pada
komposisi
|
berapapun memberikan
dampak
yang positif.
Kelebihan-kelebihan bioetanol dibandingkan
bensin:
1) Bioetanol
aman digunakan sebagai
bahan bakar, titik
nyala etanol tiga
kali lebih tinggi
dibandingkan bensin.
2) Emisi
hidrokarbon lebih sedikit.
Kekurangan-kekurangan
bioetanol dibandingkan
bensin:
1) Pada
mesin dingin lebih sulit
melakukan
starter bila menggunakan
bioetanol.
2) Bioetanol bereaksi dengan
logam
seperti
magnesium dan aluminium.
Produksi bioetanol
(alkohol) dengan bahan baku tanaman yang mengandung pati
atau karbohidrat, dilakukan melalui proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut
air. Sebagai alternatif digunakan campuran bioetanol dengan
bensin. Sebelum dicampur,
bioetanol harus dimurnikan hingga 100%. Campuran ini dikenal dengan sebutan gasohol (Skadrongautama, 2009).
Pada kenyataannya
tidak ada
atau
sulit sekali
kita mendapatkan etanol absolute,
apalagi dengan peralatan seadanya.
Demikian
pula
rasanya
tidak mungkin
mendapatkan/merecovery 100% etanol yang ada di
dalam cairan fermentasi. Dengan kata lain efisiensi hidrolisisnya kurang dari
100%. Kadar bioetanol
maksimal yang bisa diperoleh dari
proses distilasi adalah 95%.
Seringkali kadarnya hanya 60%,
80%, atau 90%. Kita menghitungnya berdasarkan kadar etanol yang keluar dari distilator saja (Abimosourus, 2010).
Etanol
Etanol atau
etil
alkohol C H OH. merupakan cairan
yang
tidak berwarna, larut dalam air, eter, aseton, benzene, dan semua pelarut organik, serta memiliki bau khas alkohol. Sifat-sifat kimia
dan
fisis
ethanol sangat tergantung pada gugus hidroksil.
Pada tekanan >0,114 bar (11,5 kPa) ethanol
dan air dapat membentuk
larutan azeotrop.
Etanol banyak
digunakan
sebagai pelarut, germisida, minuman,
bahan anti
beku, bahan bakar, dan senyawa antara
untuk sintesis senyawa-senyawa
organik
lainnya. Etanol sebagai pelarut banyak digunakan dalam
industri
farmasi, kosmetika, dan
resin maupun laboratorium. Pada suhu
kamar etanol berupa zat cair
bening, mudah menguap, dan berbau
khas. (Fessenden dan Fessenden, 1986).
Kulit pisang kepok digunakan
karena
mengandung karbohidrat.
Karbohidrat tersebut diurai
terlebih dahulu melalui proses
hidrolisis kemudian di fermentasi dengan menggunakan starter menjadi alkohol. Bioetanol (C2H5OH) adalah
cairan dari fermentasi gula
dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan
mikroorganisme (Anonim, 2007).
Ragi
Ragi
atau khamir adalah jamur yang terdiri dari satu sel, dan tidak membentuk hifa. Termasuk
golongan jamur
Ascomycotina. Reproduksi dengan membentuk tunas (budding).
Contoh dan peranan Ragi/Khamir
1. Saccharomyces cerevciae:
berfungsi untuk pembuatan roti,
tape, dan alkohol
2. Saccharomyces tuac:
berfungsi untuk mengubah air niral
legen menjadi
tuak.
3. Saccharomyces ellipsoideus:
berfungsi untuk peragian buah anggur
menjadi anggur minuman (akhyasrinuki , 2011).
Adapun ragi yang digunakan pada
penelitian ini
yaitu : ragi tape dan ragi roti. Mikroorganisme ini dipilih karena ragi tape
dan
ragi roti adalah Saccharomyces cerevicae
yang dapat memproduksi alkohol
dalam jumlah besar dan mempunyai toleransi pada kadar alkohol
yang tinggi. Kadar alkohol yang dihasilkan sebesar 8-
20% pada kondisi optimum. Ragi tape
dan ragi roti yang bersifat stabil, tidak berbahaya atau menimbulkan racun, mudah di dapat dan malah
mudah dalam
pemeliharaan. Bakteri tidak
banyak digunakan untuk memproduksi
alkohol secara komersial,
karena bakteri
tidak
dapat tahan pada kadar alkohol yang
tinggi (Sudarmadji K., 1989).
Fermentasi
Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel
dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah
salah satu bentuk respirasi
anaerobik, akan tetapi,
terdapat definisi yang
lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal (Winarno & Fardiaz,1992).
Gula adalah bahan yang umum
dalam fermentasi.
Beberapa contoh hasil fermentasi
adalah etanol, asam laktat,
dan
hidrogen.
Akan tetapi beberapa komponen lain
dapat juga dihasilkan
dari
fermentasi
seperti asam
butirat dan aseton (Satuhu & Supardi, 1994).
Fermentasi bioetanol dapat didefenisikan sebagai
proses penguraian gula menjadi bioetanol dan karbondioksida
yang
disebabkan enzim yang dihasilkan oleh massa sel
mikroba. Perubahan yang
terjadi selama proses
fermentasi adalah glukosa menjadi
bioetanol
oleh sel-sel ragi tape dan ragi roti (Prescott and Dunn, 1959).
Variabel yang Berpengaruh
Variabel
yang berpengaruh pada proses fermentasi adalah bahan
baku, suhu, pH, konsentrasi
ragi, lama
fermentasi,
kadar gula,
dan nutrisi ragi.
1)
Bahan Baku
Pada umumnya
bahan baku yang
mengandung senyawa
organik terutama glukosa
dan pati dapat digunakan sebagai substrat dalam proses fermentasi
bioetanol (Prescott and Dunn,
1959). Pada penelitian
kali digunakan kulit
pisang kepok sebagai bahan baku.
2)
Suhu
Suhu
berpengaruh
terhadap proses
fermentasi melalui
dua hal secara langsung mempengaruhi aktivitas enzim
khamir dan
secara langsung
mempengaruhi
hasil alkohol
karena adanya penguapan, seperti proses biologis
(enzimatik) yang lain, kecepatan fermentasi akan bertambah sesuai dengan suhu yang
optimum
umumnya 27 – 32oC. Ragi
tape dan ragi roti
mempunyai
temperatur maksimal sekitar 40 – 50oC dengan
temperatur minimum 0oC. Pada
interval 15 –
30oC fermentasi mengikuti pola bahwa semakin
tinggi suhu, fermentasi makin
cepat berlangsung. Suhu optimum untuk ragi roti adalah 19 – 32oC
dan suhu optimum untuk ragi tape adalah 35 –
47oC. Oleh karena itu, pengaturan suhu dibuat dalam
range tersebut. (Winarno
& Fardiaz,1992).
3)
pH
Pada
umumnya
pH
untuk fermentasi
dibutuhkan
keasaman 3,4 – 4, ini didasari
lingkungan hidup
dari starter yang dapat tumbuh
dan melakukan
metabolisme pada
pH
tersebut
(Winarno & Fardiaz,1992).
4) Konsentrasi Ragi
Konsentrasi ragi
yang diberikan
pada
larutan yang akan difermentasikan
optimalnya adalah 2 – 4% dari volume
larutan (Satuhu & Supardi, 1994).
Jika
konsentrasi ragi yang diberikan kurang dari
kadar optimal yang disarankan
akan menurunkan kecepatan fermentasi karena sedikitnya
massa yang akan
menguraikan glukosa menjadi etanol, sedangkan
maka
akan
dibutuhkan substrat yang lebih banyak karena substrat yang ada tidak cukup, karena itu menurunkan kecepatan
fermentasi. (Winarno & Fardiaz,1992).
5)
Lama fermentasi
Lama fermentasi biasanya ditentukan
pada
jenis bahan dan jenis yeast serta gula.
Fermentasi berhenti
ditandai dengan tidak terproduksinya lagi
CO2. Kadar etanol yang dihasilkan akan semakin tinggi
sampai
waktu optimal dan setelah itu kadar
etanol yang dihasilkan menurun
(Prescott and Dunn,
1959). Pada penelitian ini dipakai waktu yang dipakai 1,
2, 3, 4 dan 5 hari.
6)
Kadar Gula
Kadar gula yang optimum untuk
aktivitas pertumbuhan starter adalah 10-18%.
Gula disini sebagai substrat,
yaitu sumber karbon
bagi nutrient ragi tape dan ragi roti yang
mempercepat
pertumbuhan untuk selanjutnya
menguraikan karbohidrat
menjadi etanol. Apabila terlalu pekat, aktivitas enzim
akan terhambat sehingga waktu fermentasi menjadi lambat
disamping itu
terdapat sisa gula
yang tidak dapat terpakai dan jika terlalu encer maka
hasilnya berkadar alkohol rendah.
Jika
kadar
gula di
bawah 10%
fermentasi dapat berjalan tetapi etanol
yang dihasilkan terlalu encer sehingga
tidak
efisien untuk didestilasi
dan biayanya mahal. Jika
kadar gula di atas 18 % fermentasi akan
menurun dan alkohol yang terbentuk
akan menghambat aktivitas ragi, sehingga
waktu fermentasi bertambah lama
dan
ada
sebagian gula yang tidak terfermentasi. (Winarno
& Fardiaz,1992).
7)
Nutrisi
ragi
Nutrisi
diperlukan sebagai tambahan makanan bagi pertumbuhan ragi. Nutrisi
yang diperlukan misalnya:
garam ammonium
(NH
CL) dan garam
phosphate (pupuk TSP).
II. METODOLOGI
Prosedur penelitian yang pertama adalah
melakukan pretreatment kulit pisang kepok
yaitu dengan memotong-motong
kulit
pisang kepok menjadi kecil lalu diberi
aquadest dengan
perbandingan 1:1 berat umpan, kemudian diblender dan
diambil filtratnya. Lalu ambil sampel dengan berat bubur kulit pisang kepok
masing-masing sebanyak 200
gr dan dimasukkan ke dalam
erlenmeyer 500 ml. Setelah itu dilakukan
proses fermentasi.
Masukkan ragi ke dalam
bubur kulit pisang dengan konsentrasi 1, 2, 3, 4, dan 5 %
dari
berat bubur kulit pisang. Lalu diaduk selama
5 menit sampai homogen,
Kemudian pH larutan
diukur dan divariasikan sesuai
dengan variabel penelitian
yaitu 2, 3, 4, 5, dan
6.
Setelah
itu
erlenmeyer 500
ml yang
berisi
bubur kulit pisang kepok tersebut dihubungkan dengan selang
karet dan ujung selang
dimasukkan kedalam
air agar tidak terjadi
kontak langsung dengan
udara.
Selanjutnya larutan
difermentasi selama
1,
2, 3,
4, dan
5 hari.
Kemudian larutan dan bubur kulit pisang kepok dipisahkan sehingga
diperoleh cairan alkohol-air. Liquid
yang mengandung etanol
dipisahkan dari kulit
pisang
dengan cara disaring menggunakan kertas saring.
Pemurnian hasil
dilakukan dengan menggunakan
evaporator untuk mendapatkan bioetanol
pada suhu 79oC.
Selanjutnya dilakukan analisa
densitas etanol dengan
piknometer. Piknometer 5 ml dikeringkan
dalam
oven
pemanas pada suhu
80ºC selama 15 menit
kemudian
dinginkan
sampai suhu
kamar dan ditimbang piknometer (kosong) 5 ml ini dengan menggunakan neraca
analitis kemudian catat beratnya. Piknometer 5 ml yang sudah didinginkan tadi diisi dengan aquadest kemudian timbang dengan neraca analitis, catat beratnya.
Kemudian dilakukan perhitungan untuk menentukkan
voumenya.
Piknometer
dikeringkan lagi
dengan cara memanaskan dalam oven
pemanas dengan
suhu 100 ºC selama 15
menit,
lalu
dinginkan sampai suhu kamar,
kemudian sampel distilat
dimasukkan ke dalam piknometer,
sampai tidak
ada gelembung
udara.
Kemudian ditimbang piknometer
yang berisi sampel distilat dengan
menggunakan neraca
analitis. Dicatat suhu kamar pada saat dilakukan penimbangan.
Alasan penggunaan piknometer karena piknometer merupakan alat
yang
digunakan untuk
mengukur nilai
massa jenis atau densitas fluida.
Terdapat
beberapa macam ukuran piknometer, tetapi biasanya
volume
piknometer yang banyak digunakan adalah 5 ml dan 10 ml dimana nilai
volume
ini valid pada temperatur yang tertera pada piknometer (Putuwibisana, 2011)
III. HASIL
DAN PEMBAHASAN
Ragi yang baik pada proses
pembuatan bioetanol
Masing – masing sampel menggunakan
jumlah bahan baku yang sama yaitu 200 gram bubur kulit pisang kepok, pH alami (5), dan
fermentasi selama 2 hari dengan konsentrasi ragi dihasilkan sebanyak
6,1277%,
sedangkan pada 5,2897%.
Jadi, ragi roti lebih baik dari ragi tape dalam menghasilkan bioetanol karena ragi
tape tidak
hanya mengandung khamir
yang sama dengan ragi
roti
yaitu Saccharomyces cerevisiae
melainkan mikroorganisme
lain sehingga hasil bioetanol yang diperoleh dengan menggunakan
ragi tape tidak terlalu baik dibandingkan dengan menggunakan ragi
roti.
Konsentrasi
ragi yang baik pada proses
pembuatan
bioetanol
Dari hasil
analisa dapat disimpulkan
bahwa umpan dengan konsentrasi ragi
sebesar 3% berat umpan
menghasilkan etanol yang maksimal karena penambahan ragi sesuai dengan banyaknya nutrisi di dalam
sampel. Pada
penambahan dosis ragi 4 dan 5% bioetanol yang
dihasilkan
menurun karena produktivitas
mikroorganisme menurun akibat
kurangnya nutrisi yang dibutuhkan oleh mikroorganisme tersebut. Apabila
terlalu banyak
penambahan ragi
juga akan menghasilkan banyak asam dan
bioetanol yang dihasilkan
juga sedikit
pH yang baik pada proses pembuatan
bioetanol
Pada umumnya
pH
untuk fermentasi
khamir dibutuhkan keasaman optimum antara 3,0– 5,0.
Diluar
itu
maka pertumbuhan
mikroba
akan terganggu.
Lama fermentasi yang
baik
pada
proses
pembuatan
bioetanol
Dari hasil penelitian didapat
bioetanol yang baik pada
hari kedua karena
mikroorganisme telah
beradaptasi dengan lingkungan dan nutrisi yang tersedia sehingga mikroorganisme banyak tumbuh dan membelah
diri dan jumlahnya meningkat
dengan cepat dibanding hari yang lain. Pada hari ketiga, keempat, dan kelima pertumbuhan
mikroorganisme tidak diimbangi dengan nutrisi yang cukup sehingga bioetanol yang dihasilkan menurun, selain itu
bioetanol yang
terbentuk akan terhidrolisis menjadi asam
apabila
difermentasi terlalu lama.
Masing – masing
sampel
ditambah jumlah ragi yang sama yaitu 3% berat sampel, pH 4
dan difermentasi selama 2 hari
dengan perebusan umpan terlebih dahulu. Dari hasil
analisa diperoleh kadar bioetanol yang
baik adalah 9,8528% (sampel
1) dan 9,7307% (sampel 2) pada
umpan yang direbus.
Hal
ini disebabkan
karena dengan perebusan
umpan
terlebih dahulu terjadi proses
hidrolisa sederhana dan bateri-bakteri pengganggu akan
mati.
IV. KESIMPULAN
1) Dengan menggunakan ragi roti kadar bioetanol yang dihasilkan lebih baik yaitu sebesar 6,1277%
dibanding ragi tape
yang hanya menghasilkan
kadar bioetanol sebesar
5,2897%.
2) Pada
konsentrasi
ragi
3%
berat
sampel,
dihasilkan kadar bioetanol yang baik
yaitu sebesar
7,0774%.
3) Pada pH 4, dihasilkan bioetanol
yang baik yaitu
sebesar 7,5995%.
4) Pada
waktu
fermentasi
2
hari
dihasilkan
bioetanol yang baik yaitu sebesar
6,2646%.
5) Dengan perebusan bahan
baku terlebih
dahulu dihasilkan
kadar
bioetanol
yang
baik
yaitu sebesar 9,7917% dibanding
dengan kadar bioetanol
tanpa perebusan yaitu sebesar
6,2646%.
DAFTAR PUSTAKA
Abimosourus, 2010. http://teknologi.kompasiana. com/terapan./ menghitung-produksi-
bioetanol. Diakses 20
Oktober
2012.
Akhyasrinuki, 2011. http://id.shvoong.com/ writing-and-speaking/2150298-definisi-
ragi-khamir-protozoa.
Diakses
20
Oktober
2012
Anonim,1998. Statistika
Indonesia, Online dihttp://
Biro.Pusat.Statistika.Provinsi Lampung.com. Diakses
10 Juni
2011
Sumber:
http://pelajarnesia.blogspot.com/2014/03/makalah-pembuatan-bioetanol-dari-kulit.html




